Kamis, 26 Februari 2015

Kasih Tak Sampai Terhalang Adat

       "Tenggelamnya kapal van der wijck" merupakan film yang diangkat dari sebuah novel yang berjudul sama karya Buya Hamka yang menceritakan tentang perjuangan seorang anak yatim piatu yang bernama Zainuddin (Herjunot Ali) memperjuangkan cintanya kepada Hayati (Pevita Pearce), namun kisah cinta mereka dipisahkan oleh tradisi adat 

      Kisah ini bermula ketika Zainuddin seorang yatim piatu, ayahnya yang berasal dari suku Minangkabau asli. Dia diasingkan dan dibuang ke Makassar dan diberi julukan "Si Pendekar Sutan". Ibu Zainuddin berasal dari suku Bugis (orang makassar) yang meninggal sebelum wafatnya ayah Zainuddin.  Pada awalnya Zainuddin yang tinggal di Makassar ingin menjalin silaturahim dengan sanak saudara almarhum ayahnya dan juga memperdalam ilmu agama.  Karena kuatnya adat istiadat masyarakat pada saat itu, Zainuddin mendapat perlakuan buruk.
       Sikap diskriminatif masyarakat Batipuh sangat dirasakan saat mereka mengetahui bahwa Zainuddin memiliki perasaan khusus kepada Hayati, sang kembang desa di Batipuh.  Disana terdapat penghulu adat yang mengasuh Hayati karena ia yatim piatu. Karena Zainuddin yang tidak jelas adat sukunya,  sang penghulu adat pun mengusir Zainuddin dan mencoba untuk memisahkan mereka. Zainuddin terlihat kecewa namun Hayati memberikan semangat dan janji serta menyerahkan selendangnya sebagai azimat. Zainuddin bersemangat lagi dan pindah dari Batipuh ke Padangpanjang. Ia menuntut ilmu disana dan bertempat tinggal di rumah saudaranya. Ia mengenal anak dari saudaranya yang bernama Muluk dan mereka bersahabat.

       Semenjak pindah dari Batipuh,  Zainuddin dan Hayati masih saling kirim mengirim surat.  Seiring berjalannya waktu,  Hayati pergi ke PadangPanjang ke rumah Khadijah. Ia berniat untuk menemui kekasihnya disana. Namun,  sepertinya kakak khadijah yang bernama Aziz menyukainya.  Beberapa waktu setelah Hayati kembali ke Batipuh,  ia dilamar oleh Aziz dan Zainuddin. Karena adat istiadat yang sangat lekat,  lamaran Zainuddin ditokak dan Hayati menikah dengan Aziz.  Keputusan yang diambil merupakan keputusan orang-orang terkemuka di desa itu, sehingga terlihat sekali ketidakbebasan Hayati dalam memilih masa depannya.
       Saat-saat perpisahan antara Zainuddin dan Hayati terlihat sangat hikmat dan kata-kata yang mereka gunakan sangat puitis, jarang sekali digunakan oleh remaja masa kini.  Lambat laun,  Hayati menikah dengan Aziz.  Terlihat bahwa gelimang harta dan kemahsyuran Aziz saat itu sangat dilihat dan meninggalkan Zainuddin sendiri bersama keterpurukanya. Di adegan ini,  bisa kita lihat kekecewaan seseorang yang disakiti perasaanya. Namun, dengan semangat yang diberikan oleh bang Muluk, Zainuddin dapat bangkit dan menekuni cita-citanya dan kemudian merantau ke Batavia bersama Bang Muluk.
        Kesuksesan adalah sebuah hadiah dari kegagalan. Itulah yang Zainuddin dapatkan. Ia menjadi penulis sukses yang menerbitkan buku tentang kisah hidupnya.  Bukunya menyebar ke nusantara. Dengan semangat Zainuddin, kita bisa belajar bahwa tak selamanya kekecewaan menjadi suatu penghalang untuk menjadi sukses. Zainuddin menggelar sebuah opera dari cerita bukunya. Ia bertemu dengan Aziz dan Hayati. Ketegaran yang ditonjolkan oleh Zainuddin sangat menyentuh hati. Aziz yang sudah bangkrut akhirnya bertempat tinggal dikediaman Zainuddin. Ia jatuh sakit. Setelah sembuh, ia meminta Zainuddin untuk menjaga Hayati selama ia mencari kerja. Ketidakpantasan Aziz sebagai seorang suami sangat terlihat. Pertentangan hati Zainuddin makin terasa saat Hayati tinggal dengannya.
        Beberapa waktu kemudian, surat penyerahan Hayati dari Aziz dikirimkan.  Kabar Aziz yang meninggal bunuh diri juga telah tersampaikan.  Keputusasaan Aziz sangatlah tidak patut untuk dicontoh.  Di depan Hayati, Zainuddin tampak pura-pura tegar seolah-olah tidak mengenalinya.  Ia sudah menganggap Hayati sebagai seorang istri dari sahabatnya.  Hingga pada akhir kisah, ternyata ikrar janji yang dahulu pernah dibuat, mekar kembali. Namun,  pada akhirnya kisah Zainuddin dan Hayati menemui ujian terberatnya dalam sebuah tragedi pelayaran kapal van der wijck.
Film ini sangat menonjolkan kekentalan adat dan tema latar waktu yang tepat untuk film 1930-an. Dimulai dari logat yang khas diucapkan para pemainya, suasana kampung yang asri, dan properti yang digunakan cukup mendukung tema 1930-an tersebut.
      Namun,  dalam Film ini special effect kapal bisa dikatakan kurang memuaskan para penonton. Penyebab tenggelamnya kapal pun tidak dijelaskan seperti dalam film titanic. Bahasa yang mereka gunakan begitu puitis sehingga sulit untuk dicerna sebagian orang.  Dan sponsor dalam film tersebut sangat ditonjolkan.
         Dari paparan diatas,  kita dapat mengetahui kehidupan yang kental akan adat istiadatnya dan bagaimana kekuatan cinta sejati bisa bertahan walaupun dibentengi oleh kekuatan adat istiadat dan masalah lainnya. Dari film ini pula kita dapat mengambil hikmah dibakik sebuah kesuksesan seorang Zainuddin.  Film "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" sangat cocok untuk kalangan remaja dan dewasa karena mengandung unsur kehidupan dan percintaan yang tidak cocok dengan anak-anak. Namun,  makna dalam film ini dapat berpengaruh bagi kalangan remaja dan dewasa.

JAWABAN UTS MANAJEMEN PERPAJAKAN