Senin, 30 Maret 2015

Tak Lekang Oleh Waktu






Refrain adalah sebuah film drama Indonesia yang dirilis pada 20 Juni 2013 dan disutradarai oleh Fajar Nugros. Film ini juga dibintangi oleh Afgansyah Reza sebagai Nata dan Maudy Ayunda sebagai Niki. Skenarionya ditulis oleh Haqi Achmad dan diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Winna Efendi. Refrain merupakan sebuah film remaja yang menceritakan tentang persahabatan antara Niki dan Nata yang memperjuangkan cinta mereka dengan jalannya masing-masing.

Berawal dari persahabatan yang erat antara Niki dan Nata sejak kecil dan rumah mereka berada dalam suatu perumahan membuat mereka berdua merasa nyaman satu sama lain layaknya adik dan kakak. Setelah bertahun-tahun bersahabat, Ada hal yang berbeda saat Niki dan Nata menginjak masa SMA. Adegan film dimulai dari nata yang sedang mengejar Pangerannya. Dan cerita dimulai dari flashback kehidupan mereka berdua.
Adegannya menceritakan keseharian mereka yang ingin pergi ke sekolah, Niki mendominasi dialog dan adegan mereka berkemas ditampilkan dalam satu layar. Niki menceritakan sifat-sifat Nata dari dulu hingga mereka SMA seperti sekarang. Namun, dalam adegan itu terlihat promosi yang amat mencolok.
Kehadiran anak baru di sekolah mereka berpengaruh dengan cerita di film tersebut. anak baru itu bernama Annalise (Chelsea Elizabeth Islan), siswi baru yang ternyata Ibunya seorang model terkenal. Niki ternyata sudah lama ngefans dengan ibunya Anna dan merekapun menjadi sahabat. Terdapat sebuah adegan dimana seorang guru yang mengintimidasi anak baru tersebut dengan semua pertanyaan yang menuntut, namun tidak terlalu dianggap serius. Niki dan Nata pertamakali bertegur sapa di UKS saat Anna merasa pusing saat di introgasi oleh guru killer tersebut. Persahabatan mereka dimulai saat mereka ternyata teman sekelas. 


Kehidupan SMA yang mereka jalani sangat berbeda sifat. Nata, merupakan seorang siswa pintar dan patuh terhadap peraturan. Anna,seorang siswi yang pendiam. Dan Niki, seorang siswi yang merupakan anak dalam kategori bandel disekolahnya. Persahabatan tiga orang dengan kepribadian yang berbeda sangat menarik untuk ditonton.
Suatu hari mereka membolos sekolah bersama demi menemui ibunya Anna. Namun karena tindakan tersebut mereka bertiga menanggung resikonya. Dalam adegan ini terlihat sikap Niki yang tidak pernah mematuhi peraturan sekolah dan tidak pantas untuk ditiru. Mereka dihukum untuk membersihkan bus sekolah. Namun, mereka melakukannya dengan enjoy dan tidak mengambil pusing dengan kompensasi yang harus mereka ambil.
Singkat cerita, dimulailah konflik hati diantara Niki Dan Nata. Saat acara pensi di sekolah mereka, Niki yang merupakan seorang anak cheers menemui Oliver (Maxime Bouttier) saat pertandingan basket berlangsung. Oliver adalah kapten basket di Tim basket sekolah mereka. Hal itu membuat Helena (Stevani Nepa) langsung jatuh cinta padanya. Tetapi, Oliver terlihat lebih tertarik pada Niki. Kecemburuan Helena terhadap Niki terlihat natural seakan bukan acting. Persahabatan antara niki, Nata Dan Anna terlihat harmonis saat nata yang sedang mengikuti kompetisi menyanyi di sekolah. Dengan semangat yang menggebu, Niki menyemangati Nata dengan kostum cheersnya.
Setelah selesai mengikuti lomba, Nata melihat Niki "ngobrol" dengan oliver dan itu membuat ia terlihat cemburu. Sejak itu, Oliver gigih mengejar Niki dan mereka akhirnya jadian. Oliver ternyata pernah tinggal di Prancis terungkap saat adegan mereka kencan di sebuah restoran dengan menu makanan khas Prancis.
Klimaks film ini terlihat saat Nata yang ternyata diam-diam menyayangi Niki lebih dari sahabat. Sayangnya, Nata tidak berani mengungkapkan perasaannya. Anna juga ternyata menyukai Nata. Ketika Niki akhirnya tahu-ketika justru sudah jadian dengan Oliver  hubungan persahabatan mereka bertiga menjadi runyam. Cara Anna menyukai Nata boleh dibilang unik, yaitu menyimpan obat cacing di kotaknya. Obat cacing itu salah diberikan Nata ketika Anna sakit dan dibawa ke ruang UKS waktu hari pertama sekolah dan lewat foto-fotonya. Cerita terus berkembang kian seru karena Oliver juga tahu Niki juga menyukai Nata.
         

Perasaan Nata pada Niki tersimpan pada surat dalam amplop biru. Sayangnya Niki baru membaca surat itu ketika Nata sudah berangkat ke Austria untuk kuliah musik. Lima tahun kemudian Niki memutuskan menengok Nata di Wina dan membicarakan cintanya yang datang terlambat namun nasib sial menghampirinya yang harus kehilangan koper dan tersesat ia akhirnya menemukan Nata sedang bermain piano. Setelah itu Niki menunggu diluar hingga Nata melihatnya. Mereka kemudian jalan-jalan dengan sebuah kereta kuda, dalam perjalanan Niki memberikan surat di dalam sebuah amplop merah yang isinya adalah "It's always been you too", suatu adegan yang romantis yang mengena dihati para penonton dan sebuah jawaban untuk apa yang diharapkan Nata selama ini. Mengikuti tradisi dalam FTV-FTV di channel-channel Televisi dan mudah saja untuk ditebak film ini berakhir dengan kebahagiaan mereka setelah membaca surat itu di kereta kuda.
Film ini mengingatkan kita pada film “Milli dan Nathan” (2011) yang juga diangkat dari novel karya Titien Wattimena. Kedua film tersebut menggambarkan tentang kisah cinta kedua orang sahabat. Namun film “Milli dan Nathan” terkesan lebih dewasa jika dibandingkan film “Refrain”. Meskipun banyak sekali perbedaan di antara kedua film tersebut, namun tema yang digunakan penulis tetap sama. Pemain yang terlibat dalam film tersebut juga mempengaruhi penonton. Dengan menggunakan Afgan dan Maudy Ayunda sebagai pemeran utama membuat film tersebut laku dipasaran.
“Refrain” menyajikan kisah romance yang biasa terjadi dikalangan remaja. Aktor dan Aktris yang terlibat sangan mendukung tema film. Tempat pengambilan scene yang indah juga menjadi daya tarik penonton dalam menikmati film. Sikap tiap-tiap tokoh berhasil didalami oleh para pemain sehingga film terlihat natural. Bagian saat mereka berada di luar negeri pun juga membuat film menjadi diminati oleh remaja biasanya. Makna yang di dapatkan juga sangat bermanfaat dan sangat cocok untuk kisah percintaan remaja sekarang. Persahabatan yang terjalin juga menjadi cermin untuk anak muda dalam berteman
            Namun, film ini kurang jelas untuk sebuah film. Orang tua dari ketiga sahabat tersebut belum diketahui siapa. Hanya sebagian kecil yang diperlihatkan. Niki dan Nata yang dikatakan bersahabat sejak kecil pun belum dipastikan dengan adanya scene saat mereka kecil. Hal itu membuat film tersebut menjadi ganjil. Pengambilan gambar saat Niki dan Nata di luar negeri juga kurang bagus kualitasnya.
Overall,dari ulasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa film “Refrain” mengajarkan kita arti dari sebuah persahabatan, Cinta, kasih sayang Orangtua, dan kepedulian. Dengan menonton film ini kita bisa lebih menghargai perasaan orang lain. Belajar untuk tidak membohongi diri sendiri. Untuk lebih berani dalam mengungkapkan perasaan. Kita juga dapat belajar untuk merelakan dan mengikhlaskan dari tokoh Anna dalam film tersebut.




Apapun rencana yang kita buat..
Dimanapun kita berpijak..
Sejauh apapun kita pergi..
Cinta akan tetap berada disana..
Menunggumu mengakui keberadaannya
Cinta tak akan lekang oleh waktu.


Thanks ya Guys udah mau baca Post-an ku sampe sini. Don't forget to comment and like ;)

Kamis, 26 Februari 2015

Kasih Tak Sampai Terhalang Adat

       "Tenggelamnya kapal van der wijck" merupakan film yang diangkat dari sebuah novel yang berjudul sama karya Buya Hamka yang menceritakan tentang perjuangan seorang anak yatim piatu yang bernama Zainuddin (Herjunot Ali) memperjuangkan cintanya kepada Hayati (Pevita Pearce), namun kisah cinta mereka dipisahkan oleh tradisi adat 

      Kisah ini bermula ketika Zainuddin seorang yatim piatu, ayahnya yang berasal dari suku Minangkabau asli. Dia diasingkan dan dibuang ke Makassar dan diberi julukan "Si Pendekar Sutan". Ibu Zainuddin berasal dari suku Bugis (orang makassar) yang meninggal sebelum wafatnya ayah Zainuddin.  Pada awalnya Zainuddin yang tinggal di Makassar ingin menjalin silaturahim dengan sanak saudara almarhum ayahnya dan juga memperdalam ilmu agama.  Karena kuatnya adat istiadat masyarakat pada saat itu, Zainuddin mendapat perlakuan buruk.
       Sikap diskriminatif masyarakat Batipuh sangat dirasakan saat mereka mengetahui bahwa Zainuddin memiliki perasaan khusus kepada Hayati, sang kembang desa di Batipuh.  Disana terdapat penghulu adat yang mengasuh Hayati karena ia yatim piatu. Karena Zainuddin yang tidak jelas adat sukunya,  sang penghulu adat pun mengusir Zainuddin dan mencoba untuk memisahkan mereka. Zainuddin terlihat kecewa namun Hayati memberikan semangat dan janji serta menyerahkan selendangnya sebagai azimat. Zainuddin bersemangat lagi dan pindah dari Batipuh ke Padangpanjang. Ia menuntut ilmu disana dan bertempat tinggal di rumah saudaranya. Ia mengenal anak dari saudaranya yang bernama Muluk dan mereka bersahabat.

       Semenjak pindah dari Batipuh,  Zainuddin dan Hayati masih saling kirim mengirim surat.  Seiring berjalannya waktu,  Hayati pergi ke PadangPanjang ke rumah Khadijah. Ia berniat untuk menemui kekasihnya disana. Namun,  sepertinya kakak khadijah yang bernama Aziz menyukainya.  Beberapa waktu setelah Hayati kembali ke Batipuh,  ia dilamar oleh Aziz dan Zainuddin. Karena adat istiadat yang sangat lekat,  lamaran Zainuddin ditokak dan Hayati menikah dengan Aziz.  Keputusan yang diambil merupakan keputusan orang-orang terkemuka di desa itu, sehingga terlihat sekali ketidakbebasan Hayati dalam memilih masa depannya.
       Saat-saat perpisahan antara Zainuddin dan Hayati terlihat sangat hikmat dan kata-kata yang mereka gunakan sangat puitis, jarang sekali digunakan oleh remaja masa kini.  Lambat laun,  Hayati menikah dengan Aziz.  Terlihat bahwa gelimang harta dan kemahsyuran Aziz saat itu sangat dilihat dan meninggalkan Zainuddin sendiri bersama keterpurukanya. Di adegan ini,  bisa kita lihat kekecewaan seseorang yang disakiti perasaanya. Namun, dengan semangat yang diberikan oleh bang Muluk, Zainuddin dapat bangkit dan menekuni cita-citanya dan kemudian merantau ke Batavia bersama Bang Muluk.
        Kesuksesan adalah sebuah hadiah dari kegagalan. Itulah yang Zainuddin dapatkan. Ia menjadi penulis sukses yang menerbitkan buku tentang kisah hidupnya.  Bukunya menyebar ke nusantara. Dengan semangat Zainuddin, kita bisa belajar bahwa tak selamanya kekecewaan menjadi suatu penghalang untuk menjadi sukses. Zainuddin menggelar sebuah opera dari cerita bukunya. Ia bertemu dengan Aziz dan Hayati. Ketegaran yang ditonjolkan oleh Zainuddin sangat menyentuh hati. Aziz yang sudah bangkrut akhirnya bertempat tinggal dikediaman Zainuddin. Ia jatuh sakit. Setelah sembuh, ia meminta Zainuddin untuk menjaga Hayati selama ia mencari kerja. Ketidakpantasan Aziz sebagai seorang suami sangat terlihat. Pertentangan hati Zainuddin makin terasa saat Hayati tinggal dengannya.
        Beberapa waktu kemudian, surat penyerahan Hayati dari Aziz dikirimkan.  Kabar Aziz yang meninggal bunuh diri juga telah tersampaikan.  Keputusasaan Aziz sangatlah tidak patut untuk dicontoh.  Di depan Hayati, Zainuddin tampak pura-pura tegar seolah-olah tidak mengenalinya.  Ia sudah menganggap Hayati sebagai seorang istri dari sahabatnya.  Hingga pada akhir kisah, ternyata ikrar janji yang dahulu pernah dibuat, mekar kembali. Namun,  pada akhirnya kisah Zainuddin dan Hayati menemui ujian terberatnya dalam sebuah tragedi pelayaran kapal van der wijck.
Film ini sangat menonjolkan kekentalan adat dan tema latar waktu yang tepat untuk film 1930-an. Dimulai dari logat yang khas diucapkan para pemainya, suasana kampung yang asri, dan properti yang digunakan cukup mendukung tema 1930-an tersebut.
      Namun,  dalam Film ini special effect kapal bisa dikatakan kurang memuaskan para penonton. Penyebab tenggelamnya kapal pun tidak dijelaskan seperti dalam film titanic. Bahasa yang mereka gunakan begitu puitis sehingga sulit untuk dicerna sebagian orang.  Dan sponsor dalam film tersebut sangat ditonjolkan.
         Dari paparan diatas,  kita dapat mengetahui kehidupan yang kental akan adat istiadatnya dan bagaimana kekuatan cinta sejati bisa bertahan walaupun dibentengi oleh kekuatan adat istiadat dan masalah lainnya. Dari film ini pula kita dapat mengambil hikmah dibakik sebuah kesuksesan seorang Zainuddin.  Film "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" sangat cocok untuk kalangan remaja dan dewasa karena mengandung unsur kehidupan dan percintaan yang tidak cocok dengan anak-anak. Namun,  makna dalam film ini dapat berpengaruh bagi kalangan remaja dan dewasa.

JAWABAN UTS MANAJEMEN PERPAJAKAN